Cara Trading Breakout dan Mengubah Fakeout Menjadi Peluang

Traders Family Advanced, Tutorial Forex 0 Comments

Share this Post

Salah satu strategi trading menguntungkan di kalangan trader forex adalah breakout. Strategi ini sangat digemari karena saat breakout benar-benar terjadi, harga biasanya akan meluncur kencang membentuk trend baru. 

Ini memberi peluang bagi trader untuk mendulang profit yang maksimal. Sebaliknya, trader yang tidak paham konsep breakout sering kali harus gigit jari karena posisi trading-nya terseret arus harga yang berbalik arah dengan tajam.

Pengertian Breakout & Fakeout dalam Trading

Secara sederhana, breakout adalah kondisi ketika pergerakan harga berhasil menembus batas level harga tertentu. Level harga yang dimaksud bisa berbentuk area support & resistance, pivot points, Fibonacci, dan lain sebagainya.

Penembusan ini akan memicu lonjakan volatilitas dan biasanya menjadi titik awal terbentuknya trend pergerakan harga yang baru. Tujuan dari trading dengan strategi breakout adalah masuk ke pasar di saat momentum itu dimulai dan terus “menunggangi” trennya sampai batas reversal (pembalikan arah) baru terbentuk.

Sebaliknya, Anda juga harus mewaspadai fakeout (false breakout). Fakeout terjadi ketika antisipasi sebuah sinyal pergerakan harga (seperti breakout) ternyata gagal terwujud, dan harga justru berbalik tajam ke arah yang berlawanan.

Cara Mengukur Volatilitas

Ada tiga indikator andalan yang bisa Anda manfaatkan untuk mengukur tinggi-rendahnya volatilitas. Dengan cara ini, Anda bisa mendeteksi kapan sebuah breakout besar akan terjadi. Ketiga indikator tersebut adalah Bollinger Bands, Average True Range (ATR), dan Moving Average (MA).

  1. Bollinger Bands: Indikator ini memang dibuat untuk mengukur volatilitas pasar forex. Cara membaca datanya pun sangatlah mudah. Saat garis-garis bollinger menyempit, itu tandanya bahwa volatilitas sedang rendah. Namun saat garis-garisnya melebar, artinya volatilitas sedang meningkat.
  2. Average True Range (ATR): ATR juga termasuk sebagai indikator yang berfungsi untuk mengukur tingkat volatilitas. Hanya ada sebuah garis di kolom indikator ATR. Jika garis ATR berada di atas, itu artinya pasar sedang volatile, namun jika berada di bawah, itu artinya volatilitas pasar forex sedang rendah.
  3. Moving average (MA): Selain indikator volatilitas murni seperti Bollinger Bands dan ATR, Anda juga bisa memanfaatkan MA untuk membaca gejolak pasar dengan cara melihat jarak antara harga saat ini dengan garis MA. Saat pasar sedang sepi, harga biasanya akan bergerak merapat pada garis MA. Sebaliknya, semakin jauh harga “terbang” atau “terjun” meninggalkan garis MA, artinya volatilitas pasar sedang meningkat tajam.

Jenis-Jenis Breakout

Ada dua jenis breakout yang biasa terjadi di pasar forex yaitu continuation breakout dan reversal breakout. Memahami seperti apa pergerakan yang dibentuk oleh kedua breakout ini akan membantu Anda untuk mendapatkan seperti apa gambaran umum yang sedang terjadi di pasar forex.

1. Continuation Breakout

Tidak jarang ditemukan pergerakan trend seakan terhenti dan kondisi pasar berubah menjadi sideways sebelum trend tersebut berlanjut ke arah yang sama. Breakout yang seperti ini dinamakan dengan continuation breakout

Skema sederhananya seperti ini: uptrendsidewaysuptrend atau downtrendsidewaysdowntrend. Trader biasa menyebut gerakan di antara kedua trend ini sebagai konsolidasi.

2. Reversal Breakout

Sebaliknya, reversal breakout adalah kondisi di mana trend yang terbentuk setelah breakout bergerak ke arah yang berlawanan dibandingkan sebelum terjadinya konsolidasi. Skema sederhananya adalah seperti ini: downtrend – konsolidasi – uptrend atau uptrend – konsolidasi – downtrend.

Trading Menggunakan Breakout

Ada empat cara yang bisa Anda gunakan untuk trading menggunakan strategi breakout yaitu analisispola harga, trend line, channels, dan menggunakan segitiga.

1. Breakout dengan Analisis Pola Harga (Price Action)

Untuk memprediksi ke mana arah breakout selanjutnya, Anda bisa mengamati pola harga yang terbentuk di grafik. Cara terbaiknya adalah dengan melihat gambaran besarnya (Chart Pattern) dan memperbesar ke detailnya (Candlestick).

Menggunakan Pola Grafik (Chart Pattern)

Pola grafik memberikan gambaran secara luas mengenai kondisi pasar. Ada beberapa pola yang paling sering menjadi pertanda harga akan melesat tajam (baik naik maupun turun), di antaranya:

  • Double top/double bottom: Pola yang menyerupai huruf M atau W.
  • Head & shoulders/inverse head & shoulders: Pola yang menyerupai kepala dan pundak.
  • Triple top/triple bottom: Mirip dengan double top/bottom, namun memiliki tiga puncak atau lembah.

Sebagai contoh, berikut adalah gambaran bagaimana breakout (penembusan harga) terjadi pada pola Inverse Head & Shoulders di ujung tren turun (downtrend):

Konfirmasi dengan Pola Candlestick

Jika pola grafik berfungsi sebagai peta, maka candlestick adalah lampu hijaunya. Ketika Anda melihat pola grafik sudah terbentuk di area support atau resistance, gunakan candlestick untuk memastikan bahwa breakout benar-benar valid, misalnya:

  • Marubozu: Candlestick dengan bodi tebal dan panjang tanpa ekor. Jika candle ini menembus level support/resistance, maka bisa jadi sinyal breakout yang kuat.
  • Engulfing: Kondisi saat bodi candle besar menutupi seluruh candle kecil sebelumnya. Jika terbentuk di area support/resistance, ini menandakan adanya momentum kuat untuk menembus level harga.

Anda bisa membaca artikel Traders Family yang membahas khusus pola candlestick dan chart pattern agar mendapat gambaran visual yang lebih lengkap.

2. Breakout dengan Trend Lines

Cara paling umum yang bisa digunakan untuk mendeteksi adanya breakout adalah dengan menggunakan trend lines. Saat menggambar trend line, akan lebih baik jika Anda menghubungkan paling tidak dua puncak/lembah. Jika Anda mampu menghubungkan lebih banyak lagi puncak/lembah, maka akan semakin kuat trend line tersebut.

Ketika harga mendekati garis trend line, ada dua hal yang mungkin terjadi. Pertama, harga akan memantul kembali ke arah sebelumnya, atau harga akan menembus garis trend line dan terjadi breakout. Ini yang ditunggu-tunggu. Cari informasi tambahan dengan menambahkan indikator MACD di trading platform yang digunakan.

breakout

Dari gambar di atas, Anda bisa melihat bahwa trend line dan indikator MACD memberikan sinyal breakout yang sama. Ketika pergerakan harga menembus trend line, indikator MACD juga berganti arah histogramnya dari bullish ke bearish. Breakout pun sudah dipastikan terjadi!

3. Breakout Menggunakan Channel

Mendeteksi adanya breakout juga bisa menggunakan channel. Penggunaan channel bisa dibilang mirip dengan trend line. Bedanya, di channel Anda akan melihat sebuah garis tambahan.

Dengan channel, kita bisa mengidentifikasi dua arah pergerakan breakout, baik itu ke arah uptrend atau downtrend. Penggunaannya kurang lebih sama dengan trend line, yakni dengan memerhatikan kapan harga bergerak mendekati garis channel, dibantu dengan indikator seperti MACD atau stochastic supaya mendapatkan signal yang lebih kuat.

4. Breakout dengan Segitiga

Mengidentifikasi breakout juga bisa dilakukan dengan menggaris “segitiga” di layar platform trading Anda. Bentuk segitiga biasanya terbentuk saat permulaan pergerakan harga pasar yang dinamis lalu perlahan-lahan menjadi konsolidasi. 

Ada tiga tipe segitiga yang biasanya muncul di pergerakan harga yaitu ascending triangle, descending triangle, dan symmetrical triangle.

  1. Ascending Triangle
    Segitiga yang satu ini terbentuk ketika garis resistance bertemu dengan higher low yang kemudian berujung pada breakout ke arah uptrend. Ini adalah sinyal bahwa para pembeli semakin kuat. Ketika harga bergerak menembus garis resistance, maka indikasi adanya breakout akan semakin terlihat.
  2. Descending Triangle
    Sebaliknya, descending triangle adalah kondisi di mana garis support bertemu dengan lower high dan kemudian mengakibatkan adanya breakout ke arah downtrend. Keadaan ini menyiratkan bahwa semakin sedikit pembeli yang ada di pasar dan para penjual mulai berdatangan.
  3. Symmetrical Triangle
    Segitiga ini terbentuk dari pertemuan higher low dan lower high. Puncak yang semakin menurun serta lembah yang beranjak naik ketika bertemu berpotensi menghasilkan breakout. Namun breakout yang dihasilkan bisa berupa uptrend atau downtrend. Ada baiknya Anda menunggu breakout yang terbentuk terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk masuk pasar.

Mengukur Kekuatan Breakout

Mengetahui kekuatan sebuah breakout bagaikan mendapatkan kepastian bahwa memang ada breakout yang sedang berlangsung. Trader biasanya menggunakan sejumlah indikator untuk membaca kekuatan trend. Umumnya, indikator yang digunakan adalah MACD dan RSI.

  1. MACD: Untuk mengetahui seberapa kuatnya trend yang sedang berlangsung bisa dengan melihat panjangnya histogram yang ada di indikator MACD. Makin panjang histogram, maka makin kuat momentum breakout yang terjadi. Jika histogram pendek, bisa jadi kondisi pasar sedang ranging.
  2. Relative Strength Index (RSI): RSI juga sering digunakan untuk mencari konfirmasi breakout. Jika sebuah breakout dalam trading terjadi (misalnya harga menembus ke atas), dan garis RSI juga bergerak kuat menembus area level 50 menuju ke atas, itu menandakan momentum yang searah dengan breakout. Ingat, breakout yang sehat harus didukung oleh momentum yang kuat!

Trading Menggunakan Fakeout

Seperti yang sudah disinggung di awal, false breakout atau fakeout adalah jebakan pasar yang sering mengecoh trader. Secara teknikal, hal ini terjadi ketika harga seolah-olah berhasil menembus level support/resistance saat fase konsolidasi, namun gagal melanjutkan tren penembusannya.

Yang terjadi justru hanyalah lonjakan harga kilat, sebelum akhirnya harga tersedot kembali masuk ke dalam koridor support & resistance awal. Berikut adalah contoh gambarnya:

breakout

Fakeout Trading Menggunakan Trend Lines

Jika Anda melihat adanya celah antara trend line dengan harga tertinggi/terendah saat menarik garis trend line di grafik, maka besar kemungkinan pergerakan harga akan melanjutkan kembali trend yang sedang berlangsung dan menjauh dari trend line. Lihat contohnya di bawah ini.

Selain itu, kecepatan pergerakan harga juga penting untuk mendeteksi apakah terjadi breakout atau tidak. Jika harga bergerak mendekati garis trend line perlahan-lahan, maka besar kemungkinan breakout tidak akan terjadi. 

Namun, jika harga bergerak cepat ditandai dengan bentuk candlestick yang panjang, maka breakout sudah hampir dipastikan akan terjadi. Cara trading fakeout menggunakan trend line ini sebenarnya sederhana saja. 

Masuklah ke pasar saat harga mulai menjauh dari garis trend line. Dengan demikian Anda akan terhindar dari kerugian dengan kemungkinan adanya breakout.

Strategi Masuk Pasar Saat Terjadi Fakeout (Jebakan)

Fakeout sering disebut sebagai bull trap (jebakan pembeli) atau bear trap (jebakan penjual). Market seolah-olah mendobrak support/resistance sehingga banyak trader amatir yang buru-buru buka posisi. Namun tak lama, harga ditarik mundur dengan cepat ke tempat semula.

Untuk sebagian trader berpengalaman, fakeout justru ladang cuan! Strategi utamanya adalah Fading the Breakout (trading berlawanan arah dengan breakout palsu).

Cara termudah mengenali dan trading di kondisi fakeout:

  • Perhatikan candlestick di area support/resistance: Jika harga mencoba menembus level penting, namun candlestick ditutup meninggalkan “Ekor” (shadow) yang sangat panjang, itu pertanda kuat terjadinya penolakan (rejection). Breakout itu gagal!
  • Tunggu harga masuk kembali (kembali ke zona awal): Jangan terburu-buru. Tunggu sampai harga kembali masuk ke bawah resistance (atau ke atas support).
  • Eksekusi: Anda bisa buka posisi berlawanan dengan arah breakout palsu tadi. Contoh: Jika harga pura-pura naik menembus resistance lalu berbalik turun dengan cepat, Anda bisa ambil posisi SELL.
  • Wajib gunakan stop loss: Letakkan stop loss Anda sedikit di atas/bawah ekor panjang (shadow) yang terbentuk saat fakeout tadi. Ini penting untuk melindungi modal Anda jika ternyata harga benar-benar melanjutkan breakout.

Pembahasan mengenai breakout dan fakeout ini sekaligus melengkapi senjata analisis teknikal Anda. Namun, untuk menjadi trader yang andal, melihat grafik saja belum cukup. Langkah selanjutnya adalah memperdalam wawasan dengan analisis fundamental, salah satunya melalui strategi Carry Trade. Pelajari selengkapnya di bawah ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published.