Forex Bukan Zero-Sum Game? Simak Fakta dari Laporan CoT

Traders Family Artikel 0 Comments

Share this Post

Zero-sum game artinya adalah representasi matematis dari situasi di mana setiap keuntungan (atau kerugian) partisipan merupakan kerugian (atau keuntungan) bagi partisipan lain terhadap utilitas yang sama. 

Jika total keuntungan dan kerugian dari seluruh partisipan dijumlahkan, maka hasilnya adalah nol. Dengan kata lain, zero-sum game merupakan manifestasi dari Efisiensi Pareto. Premisnya adalah alokasi sumber daya tidak mungkin membuat satu individu jauh lebih baik tanpa membuat setidaknya, satu individu lain menjadi lebih buruk.

Zero-Sum vs Non-Zero-Sum

Berikut contoh zero-sum game dalam judi pertandingan sepak bola antara dua orang:

  • X bertaruh 1.000 pada Tim 1.
  • Y bertaruh 1.000 pada Tim 2.
  • Jika tim 1 menang, maka uang X +1.000 (untung) dan Y -1.000 (rugi).
  • Maka, keuntungan X (+1.000) + kerugian Y (-1.000) = 0.

Di sisi lain, non-zero-sum adalah kondisi di mana hasil penjumlahan keuntungan (atau kerugian) semua partisipan bernilai kurang atau lebih dari nol. Semua partisipan berarti berada dalam situasi yang saling menguntungkan. 

Banyak situasi ekonomi merupakan non-zero-sum karena nilai barang dan jasa (sumber daya) bisa diciptakan, dihancurkan, dan dialokasikan melalui banyak cara. Dalam perdagangan, nilai suatu barang atau jasa dipertimbangkan terhadap harga.

Ketika permintaan lebih tinggi daripada penawaran, maka harga akan naik. Sebaliknya, permintaan yang lebih rendah daripada penawaran akan menyebabkan harga turun.

“Price is what you pay. Value is what you get.”

– Warren Buffett

Perdagangan Forex Merupakan Non-Zero-Sum Berdasarkan Commitments of Traders

Commitments of Traders adalah laporan mingguan oleh Commodity Futures Trading Commission (CFTC) mengenai penjabaran posisi dari 20 atau lebih trader yang dinilai sebagai open interest. 

Berdasarkan laporan Commitments of Traders (CoT) yang dirilis, forex dikategorikan ke dalam non-zero-sum karena hubungan antara commercial traders dan noncommercial traders yang memiliki nilai bagi keduanya.

Commercial trader adalah klasifikasi yang diterapkan oleh CFTC untuk mendeskripsikan semua trader yang menggunakan pasar berjangka dengan tujuan hedging (lindung nilai) atas aktivitas bisnisnya. 

Klasifikasi tersebut diberikan kepada futures commission merchant, broker, anggota kliring, dan bank investasi. Noncommercial trader adalah klasifikasi yang diterapkan oleh CFTC untuk mengidentifikasi trader yang menggunakan pasar berjangka dengan tujuan spekulatif.

Dalam laporan CoT, klasifikasi noncommercial trader ditujukan kepada spekulator besar dan kecil. Perhatikan ketiga grafik laporan CoT berikut:

Grafik laporan CoT biasanya menunjukkan bahwa posisi commercial traders (hedger) selalu berlawanan arah dengan noncommercial traders (spekulator). Namun, ini bukan berarti pihak spekulator selalu mengeruk profit dan hedger selalu rugi uang. 

Hal yang terjadi di sini adalah pertukaran nilai yang saling menguntungkan (non-zero-sum secara utilitas). Spekulator masuk ke pasar untuk mengambil risiko fluktuasi harga dengan harapan mendapat cuan.

Di sisi lain, perusahaan besar (commercial traders) dengan senang hati ‘membayar’ risiko tersebut kepada spekulator demi melindungi margin bisnis fisik mereka (hedging). Bagi perusahaan besar, forex bukanlah tempat mencari profit, melainkan alat pelindung nilai (asuransi). 

Karena kedua belah pihak mendapatkan apa yang mereka butuhkan, maka secara ekonomi, ini bukanlah zero-sum game. Ilustrasi di bawah ini menunjukkan bagaimana pasar forex digunakan sebagai hedging atas aktivitas bisnis yang memberikan manfaat bagi commercial trader.

Berdasarkan ilustrasi di atas, pembeli biji kopi melakukan hedging dengan membeli kontrak Rupiah di pasar forex (berjangka) untuk mengunci harga selama 1 tahun. Satu tahun kemudian, penjual menagih sesuai jumlah pesanan. Ketika kurs USDIDR turun (Rupiah menguat), pihak pembeli tidak merugi karena nilai tukarnya telah di-hedging sebelumnya.

Percaya Pasar, Bukan Broker

Banyak orang masih menganggap forex adalah ajang perjudian; di mana jika Anda untung, pasti ada orang lain yang rugi. Seperti yang dibuktikan oleh data CoT, stigma ini keliru jika kita melihat forex dalam skala global. Namun, mengapa di kalangan trader ritel stigma ‘zero-sum‘ ini sangat kuat? 

Jawabannya ada pada jenis broker yang digunakan. Jika seorang trader menggunakan broker tipe bandar (Market Maker/B-Book), broker tersebut bertindak sebagai lawan transaksi. Dalam sistem ini, kerugian trader adalah keuntungan broker, sehingga skemanya memang menjadi zero-sum game secara internal. 

Sebaliknya, jika trader bertransaksi menggunakan broker tipe A-Book (STP/ECN) yang menyalurkan order langsung ke pasar global, pesanan mereka akan mempertemukan berbagai kepentingan dari commercial dan noncommercial traders yang sesungguhnya. Di ekosistem asli inilah, forex murni berjalan sebagai non-zero-sum game.

Sekali lagi, perdagangan forex merupakan situasi non-zero-sum di mana bertemunya dua kepentingan; buyer dan seller. Dalam situasi tersebut, broker memiliki peluang untuk berperan di antara keduanya dan memperoleh komisi dari volume transaksi. 

Peningkatan volume transaksi akan meningkatkan komisi yang diperoleh. Maka, situasi terbaik bagi broker adalah memiliki klien jangka panjang yang rutin bertransaksi dan memperoleh profit secara konsisten.

Hindari praktik curang broker nakal dengan memilih broker transparan (A-Book). Ditambah dengan skill yang mumpuni, Anda tidak lagi sekadar mengadu nasib di pasar forex. Traders Family hadir untuk mengedukasi dan merekomendasikan lingkungan trading yang aman bebas manipulasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.